Kita ucapkan syukur kehadiran Illahi, yang menganugerahkan kepada kita perasaan cinta kasih dan memberi kesempatan untuk membimbing putra – putri kita hingga mereka dewasa. Jutaan harapan & bimbingan selalu kita berikan kepada mereka agar menjadi anak yang sholeh / baik dan berbakti ketika kita di masa tua nanti, tapi pernahkan kita merenungkan kembali kenapa kita merencanakan dan menjalankan rencana tersebut, pernahkah kita memperhatikan sekeliling kita dan merasa kita bagian dari lingkungan.
Bayi yang lahir adalah suci dan kitalah yang membimbing mereka sehingga mereka menemukan kepribadian mereka yang sebenarnya. Kesucian tersebut seharusnya kita yang membimbing sesuai harapan kita sebagai orang tua, hal tersebut memang berat tapi itu memang kewajiban kita. Perasaan ingin di puji adalah suatu hal yang sangat wajar, begitu juga dengan penghormatan tapi perlukan kita mengorbankan segalanya yang kita cintai,
Untuk para pemuka agama pernahkah terbayang ketika kami besar nanti ada perasaan penghormatan terhadap sesama masih ada di sanubari kami, saat ini kami merasakan suasana kebencian yang mendalam di dada setiap insan, perasaan lebih cerdas diantara insan dan perasaan – perasaan yang membuat kami si kecil membisu seribu bahasa. Dalam sanubari kami yang ada, hanya permohonan Tuhan berikan rahmat dan hidayah kepada kami, yang suci ini dan berikan petunjukmu kepada pemuka agama kami.
Untuk para ibu pernahkan di hati nurani, apa yang kalian inginkan saat ini dengan pengakuan terhadap kemampuan dan pujian, mengorbankan tugas mulia kalian sebagai ibu yang penuh kasih sayang dan kelembutan yang telah di anugerahkan Illahi. Keinginan untuk maju dan berkarir adalah hal yang kami kagumi dan selalu kami doakan dalam kolbu kami, yang tidak mengerti apa – apa ini membutuhkan kasih sayang dan contoh yang penuh bimbingan,
relakah ibu? kami mencontoh yang ada di televisi , media massa, lingkungan
relakah ibu? mengorbankan kami dengan pendidikan akhlak / agama 2 – 3 jam dalam 1 hari dan kami melihat tidak kebenaran lebih dari 3 jam.
Relakah ibu ? kami sulit membedakan mana yang sopan dan tidak sopan ketika di seluruh hidup kami, tidak ada yang mengerti perbedaan mana aurat dan bukan, baik di televisi, koran, saudara kami, dan lingkungan kami ?
Relakah ibu ? kami tidak mencapai seutuhnya sebagai manusia yang penuh kasih sayang, jika kami hanya diberikan materi yang tidak jelas dari mana asalnya.
Dalam hati kecil kami, kami sangat membutuhkan kasih sayang dan bimbingan karena kami selembar kertas yang putih dan kami selalu berdoa semoga kami di besarkan dengan hati nurani seorang ibu yang penuh kasih sayang anugerah illahi hingga kami nyaman dalam dekapanmu. Dalam kitab suci di nyatakan bahwa wanita adalah tiang negara, sungguh mulia kedudukanmu ibu, tapi kami mohon bimbinglah kami dengan kasih sayangmu.
Untuk para Bapak kami, pernahkan terlintas di pikiran kalian bahwa kami membutuhkan panutan sampai kami dewasa nanti, perjuangan kalian sebagai kepala rumah tangga memang berat dan penuh tanggung jawab sehingga bolehkah kami bertanya dengan keluguan kami
Pernahkan ibu kami ? di bimbing Bapak dengan perasaan Kasih sayang dan merasa ibu sebagai bagian dari jiwa kalian sehingga kami dapat menjadikan kalian sebagai panutan ?
Pernahkah tersirat dalam pikiran kalian ? bahwa kami membutuhkan kasih sayang dan bimbingan dalam langkah – langkah yang kami ingin capai, di karenakan kami hanyalah si kecil yang tertatih dalam setiap langkah – langkah hidup
Bayi yang lahir adalah suci dan kitalah yang membimbing mereka sehingga mereka menemukan kepribadian mereka yang sebenarnya. Kesucian tersebut seharusnya kita yang membimbing sesuai harapan kita sebagai orang tua, hal tersebut memang berat tapi itu memang kewajiban kita. Perasaan ingin di puji adalah suatu hal yang sangat wajar, begitu juga dengan penghormatan tapi perlukan kita mengorbankan segalanya yang kita cintai,
Untuk para pemuka agama pernahkah terbayang ketika kami besar nanti ada perasaan penghormatan terhadap sesama masih ada di sanubari kami, saat ini kami merasakan suasana kebencian yang mendalam di dada setiap insan, perasaan lebih cerdas diantara insan dan perasaan – perasaan yang membuat kami si kecil membisu seribu bahasa. Dalam sanubari kami yang ada, hanya permohonan Tuhan berikan rahmat dan hidayah kepada kami, yang suci ini dan berikan petunjukmu kepada pemuka agama kami.
Untuk para ibu pernahkan di hati nurani, apa yang kalian inginkan saat ini dengan pengakuan terhadap kemampuan dan pujian, mengorbankan tugas mulia kalian sebagai ibu yang penuh kasih sayang dan kelembutan yang telah di anugerahkan Illahi. Keinginan untuk maju dan berkarir adalah hal yang kami kagumi dan selalu kami doakan dalam kolbu kami, yang tidak mengerti apa – apa ini membutuhkan kasih sayang dan contoh yang penuh bimbingan,
relakah ibu? kami mencontoh yang ada di televisi , media massa, lingkungan
relakah ibu? mengorbankan kami dengan pendidikan akhlak / agama 2 – 3 jam dalam 1 hari dan kami melihat tidak kebenaran lebih dari 3 jam.
Relakah ibu ? kami sulit membedakan mana yang sopan dan tidak sopan ketika di seluruh hidup kami, tidak ada yang mengerti perbedaan mana aurat dan bukan, baik di televisi, koran, saudara kami, dan lingkungan kami ?
Relakah ibu ? kami tidak mencapai seutuhnya sebagai manusia yang penuh kasih sayang, jika kami hanya diberikan materi yang tidak jelas dari mana asalnya.
Dalam hati kecil kami, kami sangat membutuhkan kasih sayang dan bimbingan karena kami selembar kertas yang putih dan kami selalu berdoa semoga kami di besarkan dengan hati nurani seorang ibu yang penuh kasih sayang anugerah illahi hingga kami nyaman dalam dekapanmu. Dalam kitab suci di nyatakan bahwa wanita adalah tiang negara, sungguh mulia kedudukanmu ibu, tapi kami mohon bimbinglah kami dengan kasih sayangmu.
Untuk para Bapak kami, pernahkan terlintas di pikiran kalian bahwa kami membutuhkan panutan sampai kami dewasa nanti, perjuangan kalian sebagai kepala rumah tangga memang berat dan penuh tanggung jawab sehingga bolehkah kami bertanya dengan keluguan kami
Pernahkan ibu kami ? di bimbing Bapak dengan perasaan Kasih sayang dan merasa ibu sebagai bagian dari jiwa kalian sehingga kami dapat menjadikan kalian sebagai panutan ?
Pernahkah tersirat dalam pikiran kalian ? bahwa kami membutuhkan kasih sayang dan bimbingan dalam langkah – langkah yang kami ingin capai, di karenakan kami hanyalah si kecil yang tertatih dalam setiap langkah – langkah hidup







Posting Komentar